Sebuah Batas (0)
Riuh memutuskan untuk tinggal, bukan pergi atau lari.
Seperti biasanya (- Hmmff,,mungkin ini bukan sebuah keputusan, tapi kebiasaan -)
Riuh….! Selalu saja! Mencoba mewarnai dunia dengan warnanya, namun rupanya tak cukup beranilah ia.
Sukmanya selalu merontai setiap jingga yang merapat
ukmanya selalu merajuk pada kala yang menganggukinya.
Riuh selalu ingin bercerita, berbagi akan senangnya, berbagi akan setiap binar yang mengerlingi matanya. Riuh selalu ingin bercerita. Berbagi sesuatu yang bahkan Riuhpun tak tahu menyebutnya apa.
(Riuh ingin bercerita.)
Tanah ini mulai basah.
Ohh..Hujan! (Riuh bersimpul)
Hari ini hujan Riuh,,! Hujan,,,!
Entah kenapa Riuh sangat menyukai hujan. Butirannya terlihat seperti meteor ketika Riuh memandangnya tajam. Riuh kini ingin menari, melepaskan semua risau.
(Ahh,,Risau! Rupanya dialah yang membuat Riuh tak lagi merona.)
Dalam hati Riuh, seperti ada bulu yang menggelitikinya, menyuruhnya berbuat sesuatu.
Tapi Riuh ragu, Riuh lelah, Riuh sebal.
Fatamorgana itu semakin jelas saja, Riuh jadi jauh terbuai, membuatnya lupa akan tanah pijakannya. Ujung tumitnya mulai menjauhi coklat itu, hendak melayang dan membuaikan diri pada angan yang semakin merajuknya.
(Oh..Riuh!! Bangunlah….itu hanya fatamorgana!!!!)
Ahhh,, penyederhanaan ini mulai terasa seperti penghianatan.
Riuh mungkin salah pikir, bahwa ia telah menyimpulkan arti kebahagiaan dalam simpul terkecil, yang ia kodekan sebagai penyederhanaan.
(Tapi bukan!!)
Lebih terdengar seperti penghianatannya pada dirinya sendiri, dan pelariannya akan nyata diluar sana.
(Riuh,,,ia berpikir bahwa ia telah berpijak.)
Berpegang pada Maha yang menaungi segala.
Mungkinkah ia salah pikir juga?
Atau lakunya selama ini hanya sebatas pemenuhan akan keharusan?
Ahhh….Riuh semakin risau saja,,,,,
(Ia seakan mulai padam.)
Bukan seperti lilin yang leleh karena meyempati ruang merasai sinarnya
Ia bahkan tak nyala
Lalu apa yang mematinya?
Malam ini sungguh dingin,,
rusuk-rusuk Riuh mulai terasa menggigil.
Bintang-bintang diatas sana masih menyetiainya.
Hmm,, Riuh menghela nafas panjang,, lalu menyandarkan punggungnya pada bangku itu
Mencoba merasai semilir angin yang menyerempakkan berdirinya bulu-bulu roma.
(Ahhh,,,,Riuh sungkan pada malam)
Ia selalu saja memanja pada malam, merajuk pada damainya, merapati gelapnya
Namun masih sempat saja ia mengeluh akan dinginnya, berontak akan lenaannya,,
Ahhh,,malam..!
Riuh sepenuhnya sadar bahwa kau sungguh tak bermaksud membuainya
Yah,,memang Riuhlah yang sengaja menggelanyutimu mesra, memanja padamu
Hingga ia sangat candu padamu….
(Riuh..!!!!)
Mungkin bukan saatnya lagi bagimu untuk merepih setiap batasan yang mungkin saja bisa kau buat tak berbatas
Karena sesungguhnya tak ada batas yang benarnya ada
Mungkin itu hanya inginmu,
hanya hasratmu yang lebih ingin kentara
Namun kau selalu saja mencoba untuk menghilang
Tak sanggupkah engkau membanggai Riuhmu??
Riuh,,keberadaan ini hanya sebuah keberadaan, hanya sebuah simulasi
Tak ada alasan bagimu untuk berada atau menghilang
Karena tanpanya pun kau tetap ada
(Kau tetap nyata)
Tetap Riuh yang melepasi segala keterikatan
(Tetap Riuh yang dulu…)
Kau hanya perlu melajui titian ini
Bukan demi keberadaan atau keberhargaan
(Hanya demimu riuh.)
Demi setiap fase dalam holometabolamu
Merupai diri melajui nyata ini…..
Picisan (1)
(Riuh merunduk lagi, lama, resah dan sesak)
Ingin ia tumpahkan bulir bening itu, bulir bening yang mengaburkan matanya, bulir bening yang membuatnya merasa sangat perempuan. Bulir bening yang selama ini selalu ia sembunyikan. Bulir bening yang mungkin satu-satunya teman setianya. Bulir bening yang mungkin saja satu-satunya obat bagi sesak resahnya.
(Obat?)
Atau hanya zat yang sefungsi dengan aphetamin?
Yang Hanya memuasimu maya lalu memaksamu mencandunya?
Lalu kau terpuruk, meraung, meratap, karena membiarkkan dirimu luruh dalam rajutan bening-bening yang memanjamu
dan lalu menjadikanmu manusia lemah dan cengeng
(Ah..tapi itu bukan untuk Riuh)
Riuh tak serapuh itu. Bulir bening baginya hanyalah sebuah ornament, ornament yang mempercantik masa suramnya, masa sedihnya.
Hmff….Riuh lalu menghanyut. Lagi. Lemah. Sayup. Dan. Bosan.
Bulir itu rupanya tak cukup perlu. Sedihnya kali ini, Riuh memutuskan untuk membuatnya sederhana. Agar lebih anggun dan sahaja mungkin.
(Bukan satu atau dua harini, satu atau dua munggu ini, Riuh menata hatinya)
Membaginya menjadi kotak-kotak. Melabelinya dengan nomor seri yang terkatalog dalam otak seperempat udangnya.
(Kasihan otaknya harus berkubang dengan nomor seri yang njelimet, apalagi kalu Riuh mensettingnya dengan random mode)
(Yah..butuh waktu lama bagi Riuh menata hatinya)
Mengkotak-kotakkannya sedemikian rupa, mengkatalogkannya, membaca lagi kala ia lupa bagaimana menggunakan bagian-bagian hatinya itu.
(Dan butuh waktu lama bagi Riuh untuk mengosongkan satu kotak..hatinya)
Membokingnya, menjaganya dari liur liar nafsunya, hingga melegalkan criteria-kriteria masgul yang mengada-ada bagi yang ingi bernegosiasi, menawar, ngontrak ataupun memilikinya.
(Riuh mengosongkan untuk satu alasan konyol)
“Kotak kosong ini untuk sesuatu yang sangat besar “, katanya.
(Ahh..itu hanya ambisinya)
Ia bahkan tak coba mencari celah pada negosiator, tak coba mencari sesuatu yang sangat besar itu. Selalu saja acuh.
(Bah..retorika!!)
Taklebih dari dan tak kurang. PELARIAN..!!
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

lagi mumet....
ReplyDelete